Menghitung BPHTB Tidak Boleh Diabaikan

Menghitung BPHTB adakalanya tidak begitu dihiraukan oleh orang – orang yang hendak membeli rumah ataupun menerima rumah warisan. BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan) merupakan pajak yang dibayarkan kepada pemerintah pada saat melakukan transaksi yang berhubungan dengan properti. Ada berbagai cara yang dilakukan oleh seseorang untuk mendapatkan rumah sebagai tempat tinggal, terutama bagi orang – orang yang sudah berkeluarga ataupun orang – orang yang berencana melangsungkan pernikahan sebagai salah satu hal yang hendak dicapai dalam hidupnya. Banyak orang yang memikirkan berapa harga rumah yang hemdak dibeli ataupun berapa uang muka yang harus disiapkan untuk membeli sebuah rumah, namun yang terkadang tidak diperhitungkan adalah berapa BPHTB yang harus dibayar.

 

Kegiatan untuk mendapatkan properti yang diwajibkan untuk membayar BPHTB ada beberapa kegiatan, akan tetapi yang sering transaksi properti yang sering dilakukan oleh masyarakat adalah transaksi pada saat membeli rumah ataupun menerima warisan berbentuk rumah. Bagi orang yang akan membeli rumah baru dan orang yang akan menerima warisan berupa rumah akan berbeda cara menghitung BPHTB. Orang yang hendak membeli rumah baik kredit ataupun tunai hendaknya segera menghitung berapa BPHTB yang harus dibayarnya, begitu pula dengan orang yang hendak menerima warisan hendaknya segera menghitungnya juga. Ada beberapa istilah dalam menghitung BPHTB yang harus diketahui antara lain adalah Nilai Perolehan Objek Pajak (NPOP), Nilai Jual Objek Pajak (NJOP), dan juga Nilai Perolehan Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NPOPTKP).

NPOP bisa diartikan harga yang disepakati oleh pembeli dan penjual, sedangkan NJOP adalah harga menurut taksiran pemerintah. Besarnya NPOP dengan NJOP bisa berbeda bisa sama. NPOP bisa lebih besar dari NJOP jika suatu daerah perkembang dengan pesat sehingga harga jual properti menjadi naik. NPOP pun juga bisa lebih rendah dari pemerintah jika suatu daerah menjadi rawan bencana ataupun hal –hal lain yang menjadikan harga jual menjadi turun. Apabila besarnya NPOP lebih besar dari NJOP maka yang dijadikan dasar untuk menghitung BPHTB adalah NPOP, sebaliknya juga demikian jika NPOP lebih kecil dari NJOP maka yang dijadikan sebagai dasar untuk BPHTB adalah NPOP juga.

Menghitung BPHTB dimulai dengan cara melihat berapa NPOP dan NJOP pada properti yang akan dikenai pajak. Misal seseorang melakukan pembellian rumah seharga Rp 1.000.000.000,- sehingga nilai NPOP sebesar Rp 1.000.000.000,-. NJOP dari rumah tersebut Rp 950.000.000,- sehingga  yang dijadikan dasar untuk menghitung BPHTB adalah NPOP yang sebesar Rp 1.000.000.000,-. NPOP dikurangi dengan NJOPTKP yang setiap daerah berbeda – beda, misalkan NJOPTKP Rp 60.000.000,-. NPOP Rp 1.000.000.000,- dikurangi NJOPTKP Rp 60.000.000,- didapatkan  Rp 940.000.000,-. Hasil pengurangan sebesar Rp 940.000.000,- dikalikan 1% sehingga didapat Rp 9.400.000,-. dari penghitungan tersebut maka terhitung jumlah pajak BPHTB yang harus dibayar adalah Rp 9.400.000,-.

Menghitung BPHTB untuk warisan sedikit berbeda dengan BPHTB jual beli. Perbedaannya terletak pada NPOP yang dijadikan dasar untuk menghitung BPHTB, pada transaksi properti berupa warisan NJOP dari pemerinah dianggap sebagai NPOP. Tentunya bagi oranng yang ingin membeli rumah maupun yang akan mendapatkan warisan harus benar – benar, memperhatikan jumlah pajak BPHTB yang harus dibayarkan. Uang muka yang disiapkan oleh pembeli rumah masih harus ditambahkan dengan biaya pajak BPHTB, apalagi bagi orang yang akan menerima warisan, meskipun warisan dari orang tuanya sendiri karena hal tersebut merupakan transaksi properti maka harus disiapkan juga uang untuk membayar besarnya pajak BPHTB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *